Custom Search

Monday, September 15, 2008

Menjelajah Alam Jin Dan Syetan Bagian 2

Membaca artikel ini bagian 1, mungkin anda bertanya, apa iya segampang itu seseorang bisa mengusir syetan dan jin.
Saya juga terus bertanya begitu setelah kejadian-kejadian yang saya tulis di bagian 1. Ada apa dalam diri saya. Apa ada yang aneh atau sesuatu yang istimewa. Tetapi saya merasa biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh dan ajaib.

Saya menelusuri kembali jalan hidup saya sejak kecil, mengingat kembali apa yang bisa diingat.
Menurut almarhumah ibunda saya tercinta, waktu kecil saya banyak sekali tanya, susah menjawabnya. Beliau buta-huruf tidak bisa baca-tulis karena tidak pernah sama sekali sekolah dan juga tidak bisa bahasa Indonesia.
Pertanyaan-pertanyaan saya pada beliau kebanyakan menyangkut Allah. Beliau merasa capek menjawab kalau saya sudah mulai tanya dan banyak diantara sekian pertanyaan terus bermuara pada Allah.

Masa kecil saya tiap hari mendengarkan bapak saya almarhum membaca kitab-kitab agama Islam. Memang beliau membaca kencang, mungkin maksudnya agar kami yang ada di rumah dan halaman mendengarkan. Dan itu menjadi acara rutin beliau dari siang sampai sore sejak saya belum dilahirkan.
Almarhum bapak saya juga tidak pernah sekolah, tetapi beliau bisa baca-tulis huruf Arab, menjadi guru ngaji disamping profesinya sebagai petani dan pedagang. Beliau dianggap ulama di desa kami. Apa-apa yang saya dengar dari bapak sangat membekas di hati dan pikiran saya.

Saya kenal Allah waktu kecil terutama dari pengajaran bapak. Saya ingat waktu kecil sering menyebut nama Allah dan bicara padaNya. Kadang-kadang mengadu dan banyak tanya padaNya.

Kalimat-kalimat dzikir untuk mendekatkan diri pada Allah yang diajarkan bapak, sering saya lafazdkan baik di mulut maupun dihati secara berulang-ulang bila saya ingat dan setiap ada kesempatan. Bapak menerangkan pahala dan kegunaan kalimat-kalimat itu bagi siapapun yang mengamalkan dengan dzikir. Saya terobsesi sangat kuat oleh hal ini waktu itu.

Kalau terhalang hujan saat mau pulang ke rumah habis bermain, saya suka bicara pada Allah seperti ini :" Ya Allah, Engkau yang menurunkan hujan. Kalau memang benar, sekarang aku mau pulang ke rumah, aku mohon hentikan dulu hujannya agar aku tidak basah". Tiba-tiba hujan berhenti, sayapun pulang. Saya tidak pernah cerita hal ini pada siapapun, termasuk kepada orangtua dan saudara-saudara saya. Berulangkali saya lakukan hal itu.

Waktu-waktu seperti itu saya senang sekali karena Allah menjawab pertanyaan saya dengan cara seperti itu.Seringkali hati dan perasaan saya larut, hanyut, haru dan luluh padaNya oleh berbagai sebab. Saya makin percaya padaNya, tambah semangat memanggil dan bertanya padaNya.

Sehabis main layangan di lapangan sore hari, saya suka tidur terlentang di rumput menatap langit biru cerah dan sering bertanya dalam hati, ada apa diatas langit itu : " Ya Allah aku ingin tahu ada apa. Aku ingin seperti Malaikat dan jadikan aku seperti Malaikat yang bisa terbang kemana-mana, bisa melihat apa yang ada di langit ". Bapak saya banyak membacakan tentang langit dan Malaikat dari kitab-kitabnya. Obsesi ingin jadi seperti Malaikat yang bisa terbang sangat kuat sampai saya menginjak usia remaja.

Keingin tahuan dan mendapatkan pembuktian tentang apa yang saya pahami, terus mendera saya sampai saat ini.

Mungkin itu semua yang membuat saya dengan gampang bisa mengusir syetan pada kejadian pertama, Wallahu Aa'lam.

Anda bisa bayangkan betapa haru dan luluhnya hati dan perasaan saya pada Allah setelah kejadian pertama itu. Sering dalam kesendirian, saya mengharu-biru tidak keruan karena apa yang saya yakini tentang Dia sejak saya kecil, benar adanya. Dia tunjukkan buktinya pada diri saya. Subhanallah.

Pertarungan pertama.
Setelah pindah ke Jakarta saya pikir tidak akan berurusan lagi dengan jin dan syetan. Waktu itu saya sangat sibuk dan tidak ada hari libur. Pulang kantor larut malam, malah kadang-kadang pagi, kemudian berangkat lagi pagi-pagi sekali, malah adakalanya sebelum subuh sudah jalan. Saya juga sering keluar kota waktu itu sekitar tiga atau empat kali sebulan, bisa beberapa hari sekali pergi.

Tetapi Allah Taala menentukan lain. Rumah kontrakan yang kami tempati ternyata ada syetan penunggunya, belakangan baru kami ketahui dari tetangga saat pindah ke rumah sendiri.

Puteri kami yang pertama masih kecil ( TK ) menderita sakit aneh, mukanya sangat pucat dan kurus seperti mayat hidup. Dibawa ke tempat bermain anak-anak dia ikut bermain tetapi tidak ada ekspresi apa-apa di wajah dan tingkahnya. Setelah bolak-balik ke dokter anak tiga kali tidak sembuh juga, baru saya sadar bahwa dia diganggu syetan, saya obati sendiri, langsung sembuh.

Ditengah kesibukan saya seperti itu, muncul lagi kasus yang menimpa keluarga sangat dekat kami. Dia gadis N, kenal dekat dengan seorang pemuda A asal luar pulau Jawa. Setelah kasus itu selesai, baru saya ketahui bahwa pemuda A sebenarnya seorang yang punya kemampuan hebat dalam bidang spiritual dan sering menyendiri di pulau yang tidak berpenghuni di kampungnya. Konon gurunya almarhum tinggal di pulau itu.

Pemuda A ini sudah berkunjung ke rumah saudara-saudara kami di Jakarta dan sekitarnya, tetapi begitu diajak ke rumah saya oleh N, dia menolak.

Entah karena bangga atau sombong, N mengatakan pada pemuda A bahwa dia dan orang-orang sekampung dengan kami tidak bisa kena sihir dan santet, padahal dia tidak mengerti apa-apa tentang ini.

Pemuda A rupanya terusik egonya, dicobanya N. Dengan sangat mudah N kena sihir pemuda A teman dekatnya itu. Tiap malam N tidak bisa tidur ( saat itu dia tidak tinggal di rumah kami ) karena sering mendengar pemuda itu memanggil-manggilnya dari luar rumah.

Malam-malam N sering membukakan pintu buat pemuda A yang datang katanya, tetapi pemuda A tidak ada, malam telah larut dan sepi. Seringkali juga dia ingin mendatangi pemuda A di rumah kontrakannya di tengah malam, tetapi N dicegah oleh saudara kami tempat dia nginap.

Badan jadi kurus, muka pucat, tidak ada gairah hidup, tidak ada ekpsresi di wajahnya, blank sama sekali begitulah keadaan N waktu itu. Orang tua N sangat khawatir melihatnya.

Begitu saya obati, N teriak dan menangis. Yang tampak di penglihatannya adalah makhluk-makhluk yang menyeramkan. Beberapa hari saya obati tidak bisa sembuh total. Malah dari mulut N keluar kata : " Kakak tidak mungkin bisa menyembuhkan saya ". Tetapi saya tidak hiraukan.

Saya merasakan hal-hal yang aneh pada diri saya, begitu juga dengan isteri saya dan yakin itu hasil perbuatan si pemuda A.

Suatu malam setelah pengobatan itu, saya bermimpi berjalan di pantai, suatu perkampungan nelayan ( belakangan saya ketahui, itu kampungnya pemuda A ). Saya ketemu tulang kerangka manusia masih utuh tergeletak di pasir. Tiba-tiba tulang kerangka manusia tadi jadi hidup, dia bangun menghadang jalan saya, dari lubang tempat matanya memancar cahaya sangat terang dan kuat langsung menyerang saya. Secara refleks saya menangkis serangan itu dengan kedua telapak tangan saya sambil mengerahkan tenaga hendak menyerang balik dia. Mimpi terputus sampai disitu.

Setelah bangun saya jadi jengkel pada pemuda A. N sebenarnya suka pada dia. Kalau memang dia suka juga sama N, kenapa dia mempermainkan dan menyiksa N berbulan-bulan lamanya. Saya anggap pemuda itu keterlaluan dan jahat. Melihat keadaan N, mungkin dia mau bikin N jadi gila atau menderita terus-menerus sampai mati pelan-pelan.

Saya rasakan setanya terus membayangi saya dan mencari kesempatan untuk menyerang. Kemudian saya bilang pada syetan-syetannya yang saya rasakan kehadirannya : " Saya kasih waktu kamu tiga hari untuk datang minta maaf secara lahiriah pada N dan aku. Kalau tidak, aku akan menghabisi kalian ". Saya tidak peduli apakah pesan saya sampai ke lahiriahnya atau tidak.

Dalam hati saya bertekad akan menghancurkan mereka meskipun saya belum punya pengalaman bertarung. Saya mengingat-ingat lagi mimpi itu sampai detail-detailnya, sehingga saya yakin, Allah Taala telah mengajarkan hal penting kepada saya untuk menghadapi kejahatan pemuda A.

Saat-saat menunggu tiga hari tidak mengenakkan bagi saya. Syetan pemuda A terus menyerang, saya hanya menahannya, tidak ingin saya melanggar janji, saya takut pada Allah.

Begitu lewat waktu tiga hari, saya langsung menyerang mereka habis-habisan sebisa saya secara terus menerus, mengerahkan kekuatan seperti diajarkan oleh Allah dalam mimpi.
Terbayang di benak saya kekuatan jahat pemuda A bersama syetannya hancur lebur dan terbakar.

Tetapi anehnya masih saja terasa kehadiran syetannya meskipun tidak begitu kuat seperti sebelumnya.

Beberapa hari setelah itu N ketemu pemuda A dan menyebut nama saya, pemuda A sangat kaget, langsung pergi tanpa alasan. Sebenarnya saya pernah ketemu pemuda A selintas waktu saya berkunjung ke rumah saudara di Jakarta, seharusnya dia tidak kaget karena telah kenalan dengan saya.

Sejak pamit setelah kaget, pemuda A tidak pernah muncul lagi, tidak pernah lagi ketemu N. Saudara-saudara kandungnya yang serumah dengan dia tidak tahu juga kemana perginya, di kampungnya juga tidak ada dan tidak ada kabar berita, hilang begitu saja selama setahun.

Tetapi gangguan pada isteri saya terus datang terutama saat saya tidak ada di rumah. Kebetulan setelah kejadian itu saya keluar kota selama sebulan. Isteri saya merasa seperti ada angin dingin yang menerpa tubuhnya setiap malam, membuatnya menggigil dan sakit.

Seorang keluarga dekat kami yang bisa melihat alam jin dan syetan mengatakan bahwa dia tahu saya baru saja terlibat perang besar dan menggemparkan di alam jin dan syetan. Saya merasa heran kok dia tahu padahal dia tidak tahu saya mengobati N karena baru datang dari Jawa Timur tempat dia kuliah. Penjelasan dia, jangankan kejadian sebesar itu, kejadian kecil-kecil saja cepat tersebar di alam itu.

Setelah setahun berlalu, N diberi tahu oleh adik pemuda A tempat keberadaan kakaknya. N bersama adiknya tadi datang menengok pemuda A. Ternyata selama setahun dia menghilang dia terdampar dan menumpang di rumah seorang penduduk di kampung terpencil pinggiran Jakarta.

Begitu ketemu N, pemuda A kaget dan menyesalkan kenapa N yang datang menjenguknya.
Sebenarnya pemuda A seorang terpelajar sudah sajana S1, tetapi keadaannya saat itu sangat memprihatinkan bagi N, seperti orang bingung tidak menentu dan tidak keruan, kerjanya setiap hari membantu yang punya rumah berkebun.

N kasihan melihatnya, disuruhnya pulang kampung dan diberinya uang untuk ongkos pulang. Setelah berada di kampung selama seminggu, pemuda A meninggal tanpa menderita sakit.

Saya pikir itulah balasan dari Allah karena Allah Taala menegaskan dalam Al Qur'an, siapa yang berbuat kejahatan akan dibalas dengan kejahatan.

Setelah kejadian tadi, pertanyaan dalam hati dan pikiran saya tambah banyak. Tapi Alhamdulilah, pertanyaan-pertanyaan tadi dan pertanyaan sebelumnya sedikit demi sedikit terjawab dan tersingkap sejumlah hal yang ingin saya ketahui lewat kasus-kasus yang saya tangani berikutnya, diantaranya yang saya angkat dalam bagian 3 seri artikel ini yaitu HEBOH, PUTRI USTADZAH KESURUPAN dan LAPORAN PANDANGAN MATA JIWA DARI ALAM JIN DAN SYETAN

CATATAN :
Saya telah membahas secara mendalam dan detail tentang syetan, jin dan Iblis, seperti apa mereka, bagaimana kehidupan mereka dan dimana mereka hidup, bagaimana interaksinya dengan setiap diri anak manusia yang mengakibatkan berbagai masalah bagi setiap anak manusia.
Saya juga membahas secara mendalam dan detail tentang jiwa setiap anak manusia, apa yang dimaksudkan dengan jiwa manusia, dimana keberadaan mereka, perannya yang sentral bagi setiap diri anak manusia, persoalan yang dialami oleh anak manusia ketika jiwanya error terutama kaitannya dengan penyakit nonmedis atau medis, apa yang membuatnya error dan bagaimana cara atau upaya memperbaikinya dalam arti penyembuhannya.
Semuanya saya bahas menggunakan fakta empiris yang saya peroleh selama menggeluti penyakit nonmedis 30 tahun lebih.
Untuk informasi tentang kedua buku tersebut silahkan klik ini
BUKU TERAPI ALIF

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF
Post a Comment